Opini Koran

Bagaimana menulis opini di koran? Berikut beberapa artikel yang layk dibaca:

Tips Menulis Kolom Opini di Koran
Oleh: Shulhan Rumaru

Menyumbang opini di media massa, khususnya koran, mungkin menjadi dambaan sebagian penulis. Entah menulis untuk  koran berskala nasional atau pun lokal, yang jelas ada prestise tersendiri bagi penulisnya serta kepuasan berbagi perspektif pada masyarakat. Namun, tentu obsesi ini takkan semulus yang kita prediksi, sebab kita akan bersaing dengan banyak penulis profesional.

Dalam upaya menulis di media arus utama ini, kita perlu banyak belajar dari orang lain tentang keberhasilan mereka menembus media massa. Minimal, kita membutuhkan cara mereka, membutuhkan strategi yang mereka gunakan selama ini untuk menembus rubrik-rubrik pilihan di media. Salah satu rubrik paling polpuler adalah opini, dimana banyak profesional begitu antusias menulis di sini. Karena itu, saya ingin berbagi beberapa tips tentang hal ini.

Kemarin (21/1), tepat pukul 13.30 WIB, saya menerima SMS dari seorang sahabat. Isi SMSnya begini, “kawan, hari ini baca harian Jurnal Nasional, ada opini saya mengenai Media dan Pertunjukan Politik. Beli yah, baca dan koreksi, ok.” Sontak, saya senang. Selain sebagai sahabat diskusi di kampus, dia juga Kompasianer, namanya Dirga Maulana. Tulisan Dirga, sudah dimuat di beberapa koran harian nasional, seperti Seputar Indonesia, Koran Jakarta, dan Jurnal Nasional.

Sebagai mahasiswa jurnalistik, dia menunjukan konsistensinya menulis di media. Karena konsistensi ini, saya pertimbangkan untuk meminta tips atau kiatnya menulis di media. Inilah beberapa tips atau kiat yang sudah Dirga lakukan, sehingga tulisannya berhasil menembus media. Di antaranya;

  1. Perhatikan gaya penulisan media tersebut. Contohnya, jika teman-teman ingin tulisannya menembus kolom opini Jurnal Nasional, SINDO, dan Kompas, maka perhatikan gaya penulisan opini di koran tersebut, sebab masing-masing media mempunyai standar penulisan yang berbeda.
  2. Mengikuti isu yang berkembang di media tersebut, namun bukan semacam berita melainkan opini dengan perspektif. Sebagai penulis opini, kita dituntut cermat menghadirkan perspektif baru untuk mengurai persolan yang tengah terjadi melalui tulisan tersebut.
  3. Perbanyak referensi. Sebuah tulisan akan sulit menembus kolom opini jika referensinya kurang, entah itu data sebagai peneguh, atau teori yang digunakan dalam meracik perspektif tulisannya.
  4. Afiliasi dalam sebuah lembaga atau organisasi. Biasanya, background seorang penulis opini juga dipertimbangkan. Mungkin bisa teman-teman perhatikan, hampir semua kolom opini di media, diisi oleh orang-orang ternama alias punya keterkaitan langsung dengan tulisannya. Misalkan, Dirga, menulis tentang Media dan Pertunjukan Politik, sebab backgorundnya sebagai peneliti di Pusat Pengkajian Komunikasi dan Media (P2KM) UIN Jakarta.
  5. Lampirkan data diri penulis. Syarat yang satu ini juga penting. Jangan lupa cantumkan scan KTP atau tanda diri lainnya, nomor rekening (biasanya ada honor untuk penulis), dan foto diri (ingat yah, jangan foto abal-abal,hehe). Untuk syarat satu ini, dapat disesuaikan dengan permintaan media bersangkutan.

Sebagai pelengkap dari tips di atas, saya mengutip beberapa jurus menulis dari Ahmad Bahar tentang strategi menulis di media massa, di antranya;

  1. Mengenali Media. Menurut Bahar, pengenalan media ini diperlukan untuk mengetahui sejauh mana tulisan kita memungkinkan untuk dimuat di salah satu media yang kita tuju. Pada dasarnya, masing-masing media didirikan dengan sebuah idealisme dan cita-cita tersendiri. Efek dari idealisme ini, berpengaruh pada konten dan segmentasi pembaca. Jika kita ingin menembus sebuah media, maka kita perlu berkenalan dengan idealisme tersebut.
  2. Mengenal jenis tulisan yang akan kita kirim ke media. Jika menulis opini, kita perlu mengenal apa itu opini. Secara singkat, opini adalah gagasan, ulasan, atau kritik terhadap suatu persoalan yang tengah terjadi, kemudian ditulis dengan gaya ilmiah populer. Jadi, rasanya ngawur jika mengirim tulisan opini ke media dengan bahasa alay. Sebuah opini diharapkan mampu menghadirkan solusi ditengah perkara, bukan menambah kekusutan persoalan.

Bila anda sudah melakukan semua tips-tips di atas, harapan selanjutnya adalah berharap tulisan anda direspon positif oleh redaksi bersangkutan. Karena, sebagus apa pun tulisan anda, jika redaksi tak berkenan memuatnya, maka tulisan anda tak ada artinya.

Semoga, sekelumit kiat-kiat di atas mampu memberikan suntikan semangat untuk kita agar tetap menulis, mencoba menembus sebuah media. Syukur-syukur sekali mencoba langsung tokcer. Kalau pun tidak, jangan putus asa, silahkan coba lagi.hehehe. Saya silahkan pada semua kompasianer yang sudah sering menulis di media arus uatama agar sudi berbagi tipsnya di sini. Saya yakin, akan banyak manfaat yang dapat petik dari kita-kiat yang teman-teman berikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s